Dari pisau Cukur ke Ponsel
Tujuh tahun yang lalu, tepatnya 1999, pengguna ponsel tanah air mulai mengenal Philips sebagai pilihan alternatif. Meski dibilang kurang sukses, namun deretan merk seperti Xenium 929 dan Xenium 939 mulai mendapat tempat di hati end user. Memasuki abad millennium tahun 2000, Philips kembali menyerbu Roxy Jakarta dan WTC Surabaya dengan seri Xenium 989, Xenium 9@9, Ozeo, dan Az@lis 218. Sukses? Boleh jadi demikian, sebab jika dikaitkan dengan pengalaman membuat ponsel, sponsor utama PSV Eindoven ini terhitung masih seumur jagung.
Sejarah perusahaan ini dimulai pada tahun 1891 oleh Gerard Philips. Siapapun tahu, kalo Philips terkenal sebagai produsen lampu. Saat ini, Koninklijke Philips Electronics N.V. (Royal Philips Electronics) yang bermarkas di Amsterdam, terdiri dari 6 divisi yang lingkup bisnisnya sangat luas meliputi berbagai bidang elektronika. Pabrik pertama Philips, kini telah menjadi museum. Era 1920-an, di pabrik inilah Philips mulai memproduksi produk-produk lain. 19 tahun kemudian, dibawah kendali Frans Otten, perusahaan ini mulai membuat pisau cukur listrik pertamanya, Philipshave. Pisau cukur ini cukup laris manis di AS dengan nama Norelco.
Philips mulai masuk sebagai produsen ponsel pada sekitar tahun 1996. Dibawah bendera Philips Consumer Communications (PCC), vendor ini menangani disain, manufaktur, dan pemasaran ponsel. Selain ponsel, PCC juga menangani PSTN, telepon cordless, fax, dan answering machine.
Tepat pada 27 Juni 2001, Gerard Kleisterlee, CEO Philips yang baru saja menggantikan Cor Boonstra, kemudian mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan produksi ponselnya serta mengalihkan unit riset dan pengembangan ponselnya kepada China Electronics Corporation, rekanan bisnisnya dari China. Apa yang dilakukan oleh Jan Timmer kali ini bisa jadi didasari oleh lemahnya minat masyarakat Eropa terhadap Ponsel Philips. Maklum saja, saat itu pasar ponsel dominasi oleh trio raksasa Siemens, Nokia dan Ericsson yang tak terkalahkan oleh merk baru.

Alhasil, kepindahan pabrik Ponsel ke China ini juga sedikit mempengaruhi pundi-pundi keuangan Philips.
Keputusan Frits Philips ini ternyata cukup tepat, Tak heran bila pada tahun 2004, perusahaan ini berhasil membukukan keuntungan sekitar 30,3 juta. Sebuah hasil yang fantastis jika dikalkulasikan dengan cost tinggi. Sekedar tambahan, Philips mempekerjakan 161.586 orang di lebih dari 60 negara. Para karyawan ini terbagi dalam sejumlah divisi: Philips Consumer Electronics, Philips Semiconductors, Philips Lighting, Philips Medical Systems dan Philips Domestic Appliances and Personal Care.
Inovasi Philips
Menghadapi persaingan principal yang makin ketat, baru-baru ini Philips mengembangkan sebuah cara lain dalam melakukan aktifitas keseharian hanya dengan sekali sentuhan, dengan nama Near Field Communication (NFC).
Dengan kata lain NFC adalah pengembangan lebih lanjut dari mobile banking itu sendiri. Loncatan teknologi yang dilakukan Philips ini patut diacungi Two Thumbs Up
Dengan satu tombol (One Touch) pada piranti mobile yang dilengkapi dengan chip NFC, kita dapat melakukan transaksi pembelian, mengakses informasi dan jasa yang ditawarkan, melakukan conference call dengan para kolega dan banyak lagi yang lain. Seiring dengan semakin meningkatnya peran piranti mobile dalam setiap kehidupan dan pekerjaan kita, termasuk menggunakannya untuk media hiburan, NFC memberikan kemudahan dan kenyamanan dalam aktifitas mobile. Pada sebuah toko, ponsel yang sudah dilengkapi dengan chip NFC mampu menangani pembayaran kartu kredit dengan cepat dan aman.. Buat pelancong, pemesanan ticket untuk transportasi seperti ticket bis, pesawat, hotel dan rental mobil bisa dilakukan dengan mudah.
Philips yang menjadi wakil penemu NFC, dan sebagai wakil pendiri forum NFC saat ini sudah mencakup sekitar lebih dari 60 perusahaan terkemuka. Saat Philips sedang bekerja sama dengan partner-partner kami untuk melakukan trial dan mendemonstrasikan kenyamanan menggunakan NFC pada masyarakat di seluruh dunia.
Di Hanau, Jerman, orang-orang sudah menggunakan ponsel yang sudah dilengkapi dengan chip NFC untuk membeli, menyimpan dan menggunakan ticket perjalanan pada system transit masal.
Di Limburg, Negeri Belanda, para pecinta bola telah memasukkan kartu klubnya kedalam ponsel yang sudah dilengkapi dengan NFC. Mereka menggunakannya sebagai ticket masuk ke stadium, membeli makanan, minuman, dan membeli souvernir pada toko setempat. Sementara itu di Caen, Perancis, banyak masyarakatnya yang menggunakan ponsel mereka sebagai alat pembayaran di pusat perbelanjaan, parkir mobil, mencari informasi turisme, melakukan download ringtone, ataupun untuk mengetahui jadwal keberangkatan bis. Di Indonesia, Telkomsel segera memulai proyek pengembangan T-Cash, dengan konsep Less Cash Society
Para pecinta olahraga di Amerika Serikat juga mendapatkan kemudahan saat menggunakan NFC. Di Philips Arena stadium, Atlanta, Georgia, trial utama yang berbasis NFC memungkinkan para fans olahraga ini masuk ke dalam stadium dengan mudah menggunakan ponsel mereka. Saat di dalam stadium, mereka juga bisa menggunakan ponsel ini untuk melakukan pembelian pada setiap toko yang ada didalam stadium dengan mudah. Jika hal ini mampu diwujudkan Philips, dimanapun kita berada, mulai dari Amerika Serikat sampai Asia, bersiap-siaplah dengan kehadiran NFC.

Kembangkan Ponsel Murah.
Philips Electronics juga berencana mengembangkan sebuah hardware dan software baru yang akan dijadikan platform ponsel murah dengan harga $20 atau kurang. Langkah ini merupakan bagian dari terobosan Philips untuk membuat ponsel agar tersebar secara luas terutama di negara-negara berkembang. Untuk merealisasikan hal tersebut, akhir tahun lalu Philips mengeluarkan sub $5 system yang disebut Nexperia Cellular System Solution 5130 yang mengintegrasikan seluruh komponen yang diperlukan bagi sebuah ponsel. Nexperia berbasis ponsel memiliki kemampuan menelepon dan mengirim pesan teks melalui Short Message Service (SMS) dengan dilengkapi layar monochrome dan mampu memutar ring tone polyphonic.
Sistem ini ditujukan untuk mendorong total harga handset berbasis teknologi GSM (Global System for Mobile Communications) dibawah $20 dibanding dengan ponsel $40 yang saat ini ada bahkan dalam tujuan jangka panjang, total harga handset ini diharapkan bisa dibawah $15 pada tahun 2008. Saat ini 77 persen masyarakat dunia hidup dalam jaringan mobile dan hanya 25 persen dari mereka yang memiliki akses terhadap layanan mobile. (etna/berbagai sumber)
Daftar Pustaka:







very interesting.
i’m adding in RSS Reader
ok!sangat bermanfaat
iya ,, hmmmmmmmmmmmm
Hemm… seJarah na serU bgt.
Thank’s this note will I use to refrension